Mixue Bukan Perusahaan FnB ? Ini Alasan dan Penjelasannya

SUARA GARUT—  Mungkin, banyak orang yang masih menyangka Mixue yang merupakan merek yang menawarkan produk eskrim dan minuman dingin adalah perusahaan yang bergerak di bidang F&B (Food and Beverages) atau kuliner.

Pebisnis muda Indonesia, sekaligus influencer di media sosial, Raymond Chin dalam video di akun Tiktok-nya menyebutkan bahwa Mixue yang berasal dari Tiongkok ini sebenarnya bukanlah perusahaan eskrim atau yang bergerak di sektor F&B murni, melainkan perusahaan supply chain.

Perusahaan supply chain sendiri merupakan perusahaan yang melakukan proses produksi dan penyaluran suatu barang atau produk. Hal tersebut bukan tanpa alasan, apalagi Ray telah mempelajari sekaligus menganalisis laporan keuangan “Mixue”.

Hasilnya menunjukkan penghasilan terbesar Mixue bukan dari penjualan produk eskrim. Bahkan, pendapatan hasil menjual eskrim persentasenya di bawah 1 persen. Adapun mayoritas pendapatan mereka berasal dari penjualan bahan baku dan kemasan.

Baca Juga:Kandungan Buah Naga yang Bermanfaat untuk Kesehatan

Ia juga menuturkan, beberapa analis pernah mengatakan kalau Mixue terus berkembang seperti sekarang dalam 3-5 mendatang, diperkirakan populasi gerainya berpotensi mengalahkan McDonalds.

Mixue juga menjadi perusahaan eskrim pertama yang sudah memiliki lebih dari 20.000 gerai atau outlet di seluruh dunia.

“Identitas” Mixue sendiri, yaitu menjual produk murah. Namun, nampaknya akan sulit jika ingin meraih pendapatan besar.

Strateginya adalah mereka mempunyai pemikiran atau menerapkan rumus economic of scale— semakin banyak yang memesan eskrim, modal pun akan semakin murah.

Mulai dari situlah Mixue diketahui mulai menjadikannya sebagai perusahaan “franchise and modals” yang sebenarnya bukan perusahaan di bidang F&B. Bahkan, perusahaan tersebut juga tidak berbagi hasil dengan pemilik franchise lainnya.

Baca Juga:Resmi Bergabung dengan Tim, Bojan Hodak Ingin Goran Paulic Poles Lini Serang Persib Bandung

Selama Mixue berdiri telah mengalami berbagai perubahan. Salah satunya, mereka sudah pernah melakukan Fundraising Series A atau penggalangan dana dari investor.

Mixue juga dikabarkan akan mulai melantai di bursa saham da  akan membuka penawaran saham kepada publik atau IPO (Initial Public Offering).

Diperkirakan Mixue akan mencari dana sekitar Rp14 triliun dari IPO itu. Tujuannya, tak lain untuk likuiditas— mencapai kemampuan untuk memenuhi kewajiban atau utang perusahaannya.

Baca Juga  Ahok Mundur dari Komisaris Pertamina, Ingin Kampanyekan Ganjar

Ray juga sudah membedah (laporan) pendapatan Mixue, salah satunya laporan pendapatan bulan Maret hingga Juni 2022. Sebanyak 72 persen pendapatan mereka berasal dari suplai bahan baku dan 15 persen dari pengemasan. Sedangkan dari produk eskrimnya hanya 0,5 persen.

Temuan itulah yang dapat menjadi petunjuk bahwa Mixue ini bukanlah perusahaan “F&B” melainkan perusahaan supply chain. Adapun gaji karyawan yang harus dibayarkan perusahaan supply chain ini hanya sekitar 4 persen dari total pengeluaran.

Mereka menerapkan strategi Extreme Low Cost-Low Price dari awal— masuk ke negara-negara dunia ketiga hingga keempat yang memiliki (potensi) pasar besar dan memiliki pendapatan rata-rata negara yang sedang atau menengah dan rendah.

Produk-produk yang dijual Mixue yang dijual Indonesia sendiri hampir semuanya berada di bawah angka Rp20 ribu. Tentunya, dari harga itu, keuntungan bersihnya pun tipis.

Sadar akan hal tersebut, Mixue dikatakan Ray lebih memilih menjual bahan baku dan mesin kepada para pemilik franchise-nya. Secara otomatis para pemilik franchise harus membeli bahan bakunya dari Mixue.

Alurnya dimulai mereka mencari volume permintaan yang besar didukung bisnis franchise dengan rumus economic of scale– memperkuat pabrik, logistik, dan proses produksi serta penyaluran- menurunkan harga (modal)- mencari pelanggan dan pemilik franchise baru.

Tahapan itu terus Mixue lakukan secara berulang-ulang— volume semakin besar harga semakin turun. Hal tersebut menjadi salah satu faktor Mixue bisa berkembang dengan cepat seperti sekarang.

Tujuan dari strategi itu sendiri adalah untuk penetrasi pasar yaitu mengembangkan pasar yang sudah ada dengan produk yang sudah ada juga sebelumnya. Selanjutnya agar mereka bisa mendapatkan banyak pelanggan.

Dikatakan Ray, jika membahas laba, akan mirip dengan berbagai (perusahaan) start-up yang membakar uang mereka terlebih dahulu dan memasang harga murah di awal. Bukan, tak mungkin Mixue pun menaikkan harga produk kuliner mereka.

Namun, hal itu akan terjadi perlahan dan masyarakat khususnya konsumen tak sadar harga produk eksrim atau minuman yang ditawarkan Mixue (akan) terus naik.

Baca Juga  Dituduh Jadikan Fuji Alat Politik, Thariq Halilintar Diwanti-wanti soal Karma

Mixue yang pertama memasuki negara ketiga di Asia Tenggara, yaitu Vietnam yang merupakan negara berpendapatan menengah berkeyakinan, jika di Vietnam bisnisnya berjalan lancar, di Indonesia pun pasti akan sama.

Adapun sistem franchise yang ditawarkan Mixue ini juga unik, tidak menerapkan prinsip bagi hasil. Hasil penjualan produk eskrim dan sejenisnya langsung masuk kepada pemilik franchise. Pun dengan urusan manajemen toko, kasir, dan layanan kebersihan itu diserahkan kepada pemilik franchise.

Namun, desain dan penyedia kebutuhan (kontraktor) wajib dari pihak Mixue dengan durasi kontrak kerja 3 tahun. Seandainya akan memperpanjang kontrak, pemilik franchise hanya tinggal membayar management fee tahunan.

Biaya franchise “Mixue” sendiri sebesar Rp700 jutaan yang terdiri dari deposit Rp40 jutaan, biaya manajemen untuk lokasi di ibukota provinsi Rp24 jutaan dan daerah lain Rp18 jutaan pertahunnya.

Sedangkan, biaya pelatihan untuk 2 orang sekitar Rp3 juta, biaya pembelian mesin dan peralatan kurang lebih Rp170 juta serta biaya renovasi bakal bangunan gerai Rp200-300 juta. Ada juga biaya untuk pembelian bahan baku awal Rp100 jutaan yang diperkirakan cukup untuk 2 pekan.

Dari hal tersebut, disebutkan Ray, semakin menguatkan sebenarnya Mixue bukan perusahaan F&B atau perusahaan eskrim.

Dalam praktiknya pun, Mixue tidak menerapkan aturan jarak atau radius minimun antar gerai, asalkan dalam satu bangunan yang digunakan tidak boleh ada gerai atau bisnis F&B Lain. Misalnya, anda menyewa ruko 2 lantai dan di lantai 1 anda membuka gerai Mixue. Tetapi, di lantai 2-nya tidak boleh digunakan bisnis F&B selain Mixue. 

Dengan strategi bisnis yang diterapkan Mixue, membuktikan bahwa mereka sangat berfokus dan menguatkan pada supply chain bukan murni F&B— Mixue menitikberatkan pada penjualan bahan baku.

Apa yang dijalankan Mixue ini serupa dengan restoran cepat saji McDonalds yang awalnya merupakan perusahaan di bidang properti atau real estate.

Setiap akan membuka cabang baru, mereka membeli tanahnya terlebih dahulu. Lalu pihak yang membuka cabang dapat menyewakannya kepada pemilik franchise lain. Ray juga menyampaikan, strategi bisa diaplikasikan pada bisnis lain. (*)

Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *